feedburner

Masukkan alamat emailmu:

Dikirim oleh : FeedBurner

Celetukangobrol

Powered by ShoutJax

Etimologi Sufi

Celetukanopik :

Sufi adalah sebutan orang yang mengerjakan tasawuf. Tasawuf adalah sebuah sains yang secara obyektif mereparasi kondisi hati dan menyetelnya dari hal yang batil menuju hak. Tasawuf juga dapat diartikan sebagai travelling ke arah kemurnian dalam penghambaan.
Pengertian istilah Sufi masih debatable. Ada yang sepakat diambil dari kata suf (صوف) yang berarti wol. Karena para sufi dulu suka mengenakan pakaian dari bulu domba (wol) yang belum diwarnai.
Ada juga yang mengatakan tasawuf berasal dari akar kata safa (صفا), yang berarti kemurnian. Hal ini menaruh penekanan pada ajarannya tentang kemurnian hati dan jiwa.
Terdapat juga persangkaan bahwa asal kata tasawuf dari bahasa latin, yaitu sophos atau sophia yang artinya kebijaksanaan atau khayali (als idealish verschijnt).
Selain itu ada pula yang berujar, berasal dari kata "Ashab al-Suffa" ("Sahabat Beranda") atau "Ahl al-Suffa" ("Orang-Orang Beranda"), yang merupakan sekelompok muslim pada waktu Rasulullah, dan suka menghabiskan waktu mereka di beranda masjid Nabi, mendedikasikan waktunya untuk berdoa.
Tentang kemunculannya pun banyak pendapat, ada yang bilang istilah tasawuf baru dimulai pada pertengahan abad III Hijriyyah, saat Abu Hasyimal-Kufi dengan meletakkan "al-Sufi" di belakang namanya. Ada juga yang berdalih, sejak abad kedua di Kufah, sudah ada sebutan Al-Sufiyah. Meskipun begitu sejak abad keempat, pakaian wol sudah menjadi semacam "PDH" (Pakaian Dinas Harian) dari para sufi Irak. Namun akan tetapi para penentang tasawwuf, menganalisa bahwa tasawwuf muncul pertama kalinya di Bashrah, Irak.
Lebih jelasnya baca artikel tentang Etimologi Sufi di Artikel Indonesia, Artikel Melayu dan Artikel Inggris.

Celetukangarang
7 komentar:
bundadontworry mengatakan...
Selasa, 23 Juni, 2009   Reply To This Comment

membaca posting ini jd menambah wawasan, mas.
tetap brrrr nulis ( gak cocok ya?)
salam

Celetukan Segar mengatakan...
Selasa, 23 Juni, 2009   Reply To This Comment

Jadi malu dipuji kaya' gini!

Yang betul brrrrr tuliskan (ini maksa dicocok-cocokin)

sakainget mengatakan...
Selasa, 23 Juni, 2009   Reply To This Comment

saya no komen ajah untuk topik yg ini,
masih jauh dari mapan wawasan tentang
agama :">

Celetukan Segar mengatakan...
Selasa, 23 Juni, 2009   Reply To This Comment

Etimologi ini hanya mengulas tentang asbabun nuzul-nya kata sufi.
Jadi semua orang yang ngaku awam bahkan paham, boleh ikutan nimbrung!

itempoeti mengatakan...
Selasa, 23 Juni, 2009   Reply To This Comment

perlu juga dibuat tulisan tentang Sufi dari sisi epistimologi, aksiologi dan ontologi.

pasti akan jauh lebih menarik dan menambah pengetahuan yang membaca.

Celetukan Segar mengatakan...
Rabu, 24 Juni, 2009   Reply To This Comment

Kalo ada waktu, ada sempat, ada mau, dan tentunya ada ilmu, akan dilanjutkan, tapi ini bukan janji, lho!

Celetukan Segar mengatakan...
Senin, 06 Juli, 2009   Reply To This Comment

Di bawah ini ada sebuah artikel dari http://analisis-fiqih.blogspot.com/2008/04/teori-perbedaan-epistemologi-ulama.html
Dalam buku Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali mengulas perbedaan epistemologi antara jalan 'Ulama dan Sufi. Sedangkan, uraian secara singkat, kita dapat menemuinya di buku Mursyidul Amin. Kami mengulas hal ini karena tema ini adalah tema yang menarik. Kami menyuguhkan model untuk menggambarkannya secara artifisial. Maksudnya, model ini hanya gambaran, dan bukan merepresentasikan kondisi yang sesungguhnya. Singkatnya, uraian ini adalah ringkasan dari topik perbedaan metode shufiyah dan 'ulama di dalam Buku Ihya' Ulumuddin.
Al-Ghazali mengenali dua cara, yaitu: Thoriqul 'Ulama (Jalan Ulama/Scientist) dan Thoriqul Shufiyah (Jalan Shufiyah).
Yang pertama, Thoriqul 'Ulama (Jalan Ilmuwan/Scientist) adalah suatu jalan bagaimana seseorang mendapatkan hakekat pengetahuan melalui pembelajaran, berpikir, dialog, penelitian, dan sejenisnya. Al-Ghazali mengelompokkan dan menyebut ilmu-ilmu untuk mencapai hakekat pengetahuan dengan istilah "Ilmu Mu'amalah". Kemudian, cara yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan itu, kami menyebutnya Tartibul Barahin. Sebenarnya, Al-Ghazali tidak menyebut istilah tersebut, namun kami mendapatkannya dari Guru kami.

Selanjutnya, atau yang kedua, Thoriqul Shufiyah (Jalan Sufistik) adalah suatu jalan bagaimana seseorang mencapai hakekat pengetahuan melalui pembersihan nafsu dan hati. Jalan Sufistik tidak bisa ditemui di sekolah atau universitas. Begitu pula, Sufistik tidak menekankan pembelajaran teori-teori, postulat, atau aksioma seperti yang dilakukan pelajar di sekolah atau madrasah. Sebagai gantinya, Sufistik menekankan perilaku yang baik di kehidupan. Manusia yang telah berhasil menjalani Thoriqul Shufiyah disebut Sufi. Kita bisa menemui Bimbingan Jalan Sufistik melalui kelompok Thoriqoh dan sejenisnya. Al-Ghazali menyebut ilmu-ilmu dalam Jalan Sufistik melalui sebutan "Ilmu Mukasyafah" dan "Ilmu Tasawwuf". Kemudian, cara yang dipakai untuk mendapatkan pengetahuan itu, beliau menyebutnya dengan istilah "Tazkiyat An-nafs".

Menurut jalan sufistik, ukuran pengetahuan yang reliable dan valid adalah pengetahuan yang berasal dari hati yang bersih. Karena itu, pengetahuan lebih berasal dari intuisi dan perasaan yang mencerminkan subyektivitas sufi daripada pengetahuan rasional dan empiris. Intuisi hadir secara tiba-tiba ke dalam hati, kemudian, memecahkan masalah-masalah. Seperti seseorang yang tiba-tiba mendapatkan Mercedez Tiger untuk mengantarnya ke Istana Negara daripada harus memilih Bus Kota.

:10 :11 :12 :13
:14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21
:22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29
:30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37
:38 :39 :40 :41
:42 :43 :44 :45
:46 :47 :48 :49
:50 :51 :52 :53
:54 :55 :56 :57
:58

Poskan Komentar