feedburner

Masukkan alamat emailmu:

Dikirim oleh : FeedBurner

Celetukangobrol

Powered by ShoutJax

Belajar Aji Narantaka Dari Tukang Pidjit

Celetukanopik :

Siapa yang tak mau sakti mandraguna (bukan mandra-nya omaswati, lho)? Mau dong jawab penggiat kesaktian. Apalagi kesaktian yang cuma tinggal tempel saja pemberiannya, nggak usah puasa, melekan, bertapa, sesaji, tanpa mantra lagi. Cukup fokus pada target, dan musnahlah target tersebut (wah mirip dengan rudal).

Mungkin bisa jadi inilah alasan mengapa postingan artikel Aji Narantaka bag. 1 sampai 4, sering dikunjungi. Tentu pertama reaksi saya adalah mangkel-maringkel, tapi setelah dipikir-pikir itu kan Hak Azasi para pengunjung. Terserah mau lihat, baca dan komentar artikel mana yang disukai.

Informasi ini saya peroleh dari Tukang Feedjit (baca: Pidjit) yang setia mendampingi blog saya. Saya jadi terharu atas kesetiaannya. Tak ada ungkapan yang layak diucapkan selain beribu-ribu terima kasih (nggak pakai bertrilyun-trilyun terima kasih, habis sudah di bailout-kan ke Bank Century).

Aji Narantaka ini merupakan cerita wayang, yang saya kutip secara bebas dari : Majalah Jayabaya No. 50 Minggu III Agustus 2009, pada rubrik Wayang Gombal dengan Lakon Aji Narantaka oleh Ki Guna Watoncarita.

Dan pastinya yang belum pernah baca artikel ini jadi penasaran, makanya baca saja ceritanya di bawah ini yang super duper panjangnya :

Setelah ledakan bom yang terjadi di Hotel Ma'erot dan Cak Ton. Kerajaan Amarta jadi Siaga 1. Punggawa kerajaan dan telik sandi intensif melakukan pengamanan. Setiap ada orang yang membawa banyak barang, khususnya yang bawa ransel, langsung digeledah. Kalo gini terus, Mas BP, bisa ketangkap nih. Kemana-mana dia kan nggendong tas ransel!

Apalagi anaknya para Pandhawa, macam Gathotkaca, Antareja, Antasena dan Abimanyu, juga Setyaki sok over-acting (kebacut).

Hingga pada suatu hari ditangkapilah seorang ibu-ibu yang membawa pisau dalam jumlah besar, dengan interogasi kaya' Ndoro Meneer, Gathotkaca menanyai sang ibu itu.

Gathotkaca : "Kowe orang pasti teroris!"
Ibu : "Tidak tuan!"
Gathotkaca : "Kalo tidak kenapa bawa-bawa itu pisau."
Ibu : "Itu pisau kulakan, tuan!"
Gathotkaca : "Kulakan darimana?"
Ibu : "Dari Malaysie, tuan. Itu lho negeri asal suaminya Manohara."
Gathotkaca : "Ik tidak percaya, kowe pasti bojonya Buto Cakil Yang Top."
Ibu : "Bukan tuan, saya ini Nyi Topo, istrinya Ki Topo."

Tentu jawaban Nyi Topo itu tidak memuaskan bagi para putra Pandhawa itu. Untung datang Sadewa yang terkenal seperti Cinta anaknya Uya Kuya, yang bisa baca pikiran orang. Setelah diperiksa telapak tangannya, Nyi Topo akhirnya dikeluarkan bebas murni, karena tidak terlibat.

Sekarang gantian Gathotkaca, cs. dikuliahi oleh Sadewa. Agar jangan sembarangan menangkap orang. Dan Sadewa ingin mereka kuliah dulu di Universitas Indonesia, ngambil master di bidang Kajian Stratejik Intelijen. Biar pinter dan ngerti akal bulus teroris yang suka mbulet-bulet kaya' ulet, waktu diinterogasi dan juga bisa selangkah lebih maju dibandingkan mereka itu. Kalo setelah lulus, kok terorisnya masih lolos aja. Kata Pak Syamsir Siregar (Kepala BIN), itu namanya Sontoloyo.

Setelah itu patroli pun digeber. Namun nyatater, ternyata teroris pandai main petak umpet. Akhirnya Gathotkaca jadi mupeng dan ilfil, lalu daripada keterusan, mending ngajak para ksatria latihan perang di Tegal Kurusetra, pikirnya. Meskipun latihan perang, semua alutsista dikeluarkan dari produksi Amerika sampai buatan Swiss, macam Swiss Army Knife pun dinampakkan. Prabu Duryudana yang tinggal tidak jauh dari Tegal Kurusetra, sering terbangun tiba-tiba, karena suara gedebukan dan jeduderan.

Lama-lama akhirnya Prabu Duryudana mangkel dan memanggil Patihnya.
Prabu Duryudana : "Paman Sengkuni, saya tidak dapat tidur nyenyak. Padahal sebentar lagi ada Pidato Kerajaan tentang HUT Proklamasi Astina."
Patih Sengkuni : "Gimana lagi, bos? Tegal Kurusetra itu free zone area. Siapa aja boleh pake? Nggak peduli untuk nanggap Inul maupun Cak Nun. Gini aja, Nak Prabu, sumpal telinganya pake cotton-bud punyanya KangBoed."

Ndilalah kersaning Allah, karena kurang anggaran helikopter yang dikomandoi Gathotkaca jatuh dan menimpa rumah salah satu warga Kerajaan Astina. Keluarga Durmagati yang lagi rame-rame kenduri anaknya yang ke-12 mengalami sial. Banyak anaknya yang mati sambil bawa pincukan berisi pecel mercon.

Melihat hal ini Prabu Duryudana kirim Nota Protes ke Pandhawa, menuntut penghentian LATGAB (Latihan Perang Gabungan).

Soal ganti rugi nggak masalah, tapi soal penghentian latihan perang, nanti dulu Bos. Tegal Kurusetra itu kan daerah bebas pakai. Beda dengan Alun-Alun Kartasura, itu mesti jadi cagar budaya. Kata Antasena sambil nyanyi-nyanyi "Semut ireng anak-anak sapi, kebo bongkang nyabrang kali Bengawan ........ Solo. Riwayatmu ini, sedari dulu selalu jadi perhatian insani."

"O lha cah edan! Diberitahu orang tua, malah kurang ajar", ujar Pandhita Durna.
"Laporkan aja ke Mbah Gesang, suruh bayar royalti, supaya kapok. Biar Mbah Gesang nggak ngalami nasib kaya' Mbah Surip yang nggak dibayar-bayar RBT-nya", imbuh Patih Sengkuni.

Karena protes tidak ditanggapi, akhirnya Prabu Duryudana utusan Raden Dursala untuk memberi pelajaran Gathotkaca, cs. yang kurang ajar itu.

Untuk menghadapi Gathotkaca, Raden Dursala memakai Aji Gineng (ada yang menyebut Aji Kumbala Geni). Katanya aji ini bekas milik Adji Massaid yang anggota DPR itu lho. Selain dirinya juga ada Aji Pangestu yang memilikinya. Aji Gineng dinyatakan berkekuatan 5.000 volt. Cukup untuk menyalakan listrik sekecamatan.

Gathotkaca yang berotot kawat dan bertulang besi itupun tak berdaya menandingi keampuhan Aji Gineng. Dan seperti ini ilustrasinya :
blogger-emoticon.blogspot.com

Diiringi para Punakawan, Gathotkaca lari dengan luka sekujur tubuh. Melihat kondisi ini Bagong nggak tega. Terus Bagong berkata, "Mending Ndoro tak gendhong, daripada lari kecapekan! Pasti dijamin mantep tho, enak tho, ayo kemana?". "Ke Ustadz Haryono saja", bilang Gathotkaca.

Sesampainya di regol rumah Ustadz Haryono yang berada di komples MPW (Majelis Permusyawaratan Wayang), para satpam menghentikan mereka.
Satpam : "Anda sekalian darimana?"
Gareng : "Kami dari Tegal Kurusetra. Kami mau minta tolong diobati sama Ustadz Haryono".
Satpam : " Boleh aja, asal kalian pada pake baju koko dan peci putih!"
Petruk : "Masak pake ginian, nggak boleh."
Satpam : "Nggak boleh. Meskipun kalian cowok semua, tapi itu puser pada kelihatan. Itu pornoaksi (tidak menutup aurat)."
Semar : "Terus gimana solusinya?"
Satpam : "Itu ada warung koperasi yang menjual aneka busana muslim. Harganya nggak mahal dan sekarang lagi diskon gedhe, 75%."
Semar : "Blaik kita pada nggak bawa duit. Bisa modar nih Ndoro kita."
Bagong : "Nggak usah khawatir Mo, kita pergi ke Ponari."

Tanpa pikir panjang mereka melesat ke rumahnya Ponari. Dan betapa terkejutnya mereka melihat rumah Ponari, ternyata rumahnya besar banget. Nggak seperti yang ada di televisi selama ini.


Tiba di rumah Ponari, malah Bagong mendapat sambutan hangat. Bagong jadi bingung, karena banyak yang rebutan mau foto bersama. Bagong berkata " Kenapa kalian pada ngerubungi aku?" "Kamu pasti Mbah Surip, tho?" celetuk Mbokne Ponari. Mendengar ini Bagong ketawa ngikik. "Tidak Mbok! Saya ini Bagong. Saya kemari mau minta tolong ama Ponari untuk nyembuhin Ndoro saya Gathotkaca." "O, kirain! Tapi Ponarinya nggak ada, lagi main film ama Dinda Watson."


Punakawan mendengar ini, pikirannya jadi judeg. Harus kemana lagi cari obat. Kok gagal maning, gagal maning terus. Mbokne Ponari yang tahu kegelisahan para Punakawan, hanya tersenyum dan berkata, "Ya uwis, kalian ndak usah khawatir, ini lho ada minuman instan kreasi Ponari. Dijamin mak nyus khasiatnya. Dan gratis nggak usah bayar" Mendengar ini, hati Punakawan, jadi mak plong. Dan tanpa menunggu komando dua kali, Bagong memberikan minuman itu pada Gathotkaca yang sudah setengah kelenger.


Setelah minum Ponari Sweat, Gathotkaca njranthal kembali perkasa seperti sediakala. Dan tak lupa Gathotkaca mengucapkan terima kasih atas kebaikan Mbokne Ponari. Kemudian Mbokne Ponari bertanya, "Setelah kesini, kalian kemana?" "Mau ke rumahnya Eyang Resi Seto!", jawab Gathotkaca. "O, ke rumahnya Kak Seto! Simbok udah kenal, malahan Ponari just friend ama beliaunya. Rumahnya Kak Seto kan jauh, mending naik mobilnya Ponari."



"Dan ini ada kaos Ponari Sweat untuk cinderamata. Bagus untuk dibuat klesetan", imbuh Mbokne Ponari.



Punakawan dan Gathotkaca kaget setelah memasuki mobilnya Ponari, kaget ndak nyangka. Mobilnya Ponari yang kaya' gitu ternyata dilengkapi berbagai fasilitas elektronik, macam televisi, kulkas, laptop dan lain sebagainya. Bahkan mobil itu dilengkapi dengan peralatan tempur. Gile bener tuh mobil, saingan dong dengan mobilnya Raja Amarta. Malah kata sopirnya, mobil itu persis seperti mobil transformer, yang bisa berubah wujud menjadi robot.


Mendengar ini, Gareng yang gaptek hanya bisa melongo aja.

Namun dasar Bagong yang hobi browsing (juga blogging), langsung buka tuh laptop, tanpa ba-bi-bu. Dan cuek bebek denger penjelasan sopir itu. Maklum Bagong yang pernah kesengsem sama Marshanda, langsung cari-cari warta tentang keadaan terkini Marshanda.


Ia ragu masak wong seayu Marshanda make narkoba, jelas ndaklah!


Pasalnya dia tahu "jeroan" alias luar-dalem kepribadiannya, karena sewaktu dulu pernah jadian ama yayang Marshanda dan ngaku bernama Bagong Wong.

Lagi asyik-asyik ngebaca gosip, Petruk nyenggol Bagong untuk cari berita polkam terbaru. Jangan cuman ngurusin cewek melulu, ujar Petruk. Sambil nggrundel, Bagong nurutin omongannya kakang nomor dua-nya itu. Sejurus kemudian nampak berita tentang insiden Pidato Kerajaan Amarta di gedung MPW (Majelis Permusyawaratan Wayang). Lagu "Amarta Raya" lupa disebut sama Durleksana, langsung saja hal ini menyulut kemarahan Kartababan yang emang dari sononya sudah patriotik. Daripada rame dan merusak agenda sidang, akhirnya lagu "Amarta Raya" dinyanyikan di akhir sidang.

Membaca berita ini, Petruk yang suka klenik dan hobi baca Tabloid Klenikmania dan Majalah Mistikoklagi, langsung tanya sama Semar,
Petruk : "Ada isyarat apa ini, Mo?"
Semar : "Nggak ada. Namanya lupa itu sih biasa. Bukankah Mbah Kyai pernah bilang bahwa manusia suka lupa."
Petruk : "Masak lupa? Saya ndak yakin."
Semar : "Kalo nggak yakin, apa pendapatmu tentang kejadian tersebut?"
Petruk : "Saya ndak punya pendapat. Tapi dulu pernah ada kejadian Panji Ratmoko mimpin sidang, dan kepala palunya lepas."
Semar : "Jangan menafsir kejadian itu berlebihan. Anggap saja ini kejadian biasa, kelalaian yang wajar untuk dima'afkan. Ndak mungkin tho, pejabat sekelas Durleksana sengaja lupa. Karena kalo benar ini dilakukan, integritasnya mau dikemanakan? Apalagi anaknya yang pernah memimpin Amarta Air, yang sering jatuh itu, gentle mengatakan bahwa dirinya pernah mismanajemen soal sering rontoknya Amarta Air."

Dan tak terasa saat ngobrol itu, kendaraan yang ditumpangi, sudah sampai di rumah Eyang Resi Seto, yaitu di Pertapaan Cemara Sewu. Wuih sejuk banget pertapaannya, bisa buat villa nih, ujar Gareng. Saat melangkah memasuki halaman pertapaan, maklum Gareng adalah yang punya Gareng Podomoro Group, makanya ndak bisa lihat tanah keleleran tak karuan. Melihat pertapaan Eyang Resi Seto yang begitu asri dan menyejukkan, insting bisnisnya berbicara. Nanti aku mau nego soal harga per meter kawasan pertapaan ini sama eyang resi, pikirnya.

Sambil uluk salam, si sopir memasuki rumah sang resi. Rupanya ia sudah biasa kemari. ditangannya ada bungkusan gula dan kopi. Eyang resi emang tersohor kesaktiannya, ngerti sakdurunge winarah. Jadi disambutlah mereka dengan berbagai hidangan yang menggiurkan macam pecel, empek-empek, soto, bakso, gado-gado, kerak telor, siomay, batagor, puthu, wingko, rangin, peuyeum, es teler, wedang ronde, juga makanan barat kaya' pizza, burger, dan fried chicken ala America. Sopir yang sudah akrab sama eyang resi, langsung menciumi tangan sang resi, tak ketinggalan para punakawan juga Gathotkaca. Sopir itu berkata, ini eyang sedikit oleh-oleh dari Mbokne Ponari. Makasih Cu, tapi kok gula dan kopi? Di gudang melimpah ruah, kemarin dapet bantuan raskin dan sembako. Padahal eyang sudah bilang petugasnya, bahwa eyang ini bukannya orang miskin, namun petugasnya ngeyel, karena katanya yang dapet bantuan orang-orang yang rumahnya masih dari kulit kayu dan beratap ilalang. Eyang sudah bilang kalo rumah eyang sengaja dibuat kaya' gitu, biar bisa menghayati arti kehidupan (baca: sufi). Ma'af eyang! Lantas ngasih apa, lanjutnya. Jaman canggih gini, ya jelas voucher dong Cu!, kata eyang sekali lagi. Mendengar ini, Semar hanya bisa geleng-geleng kepala.

Setelah percakapan itu usai. Gathotkaca bicara pada eyang resi, bahwa kedatangannya kemari untuk mencari penangkal Aji Gineng. Masalah itu mah gampang kata eyang resi.
"Tenang-tenang. Urusan ilmu penangkal itu sih gampang. Yang susah itu membatalkan keputusan MK tentang sengketa pemilu", ungkap Eyang.

Akhirnya Eyang Resi Seto menginstall Aji Narantaka (ada yang menyebut Aji Kumbala Geni) di kepala Gathotkaca. Narantaka berasal dari kata Nara artinya orang dan Antaka yang artinya pingsan. Meskipun begitu, pada kenyatannya siapapun yang terkena ajian ini tidak saja menjadi pingsan, namun bisa remuk redam sampai hancur lebur.

Ajian ini bagi kaum instan-rasionalisme yang suka ilmu kesentikan, tentu sangat disukai, karena tanpa ada ritual bakar kemenyan, puasa, mandi kembang, maupun japa mantra. Jadi cukup dengan kekuatan pikiran kaya' para The Master aji tersebut menjadi aktif.

Setelah diberi ajian ini, Gathotkaca dan rombongan berpamitan meninggalkan pertapaan. Namun baru beberapa meter. Pager-nya Gathotkaca berbunyi, dan terlihat pesan dari Antareja, kakangnya Gathotkaca, yang menjadi komandan intelijen DenBagus 88. Pesannya tersebut adalah di bawah Pertapaan Cemara Sewu, Buto Cakil Yang Top bersama gerombolan teroris Jama'ah Wayangiyah bersembunyi. Kebetulan nih, pikir Gathotkaca. Dan Gathtokaca pun menyuruh sopir untuk ngebut. Agar Gathotkaca dapat segera bertemu dengan teman-temannya, para ksatria yang tergabung dalam pasukan DenBagus 88.

Sesampainya di sana Gathotkaca segera menemui Antareja dan bersalin dengan pakaian berrompi. Dan menenteng peralatan tempur canggih.



Dan bersama teman-temannya tadi, Gathotkaca melakukan pengepungan dan memberikan peringatan. Namun peringatan ini rupanya tidak digubris oleh gerombolan teroris itu. Sehingga aksi tembak-menembak pun terjadi, sampai 18 jam. Usai tembak-menembak, terlihat para teroris sudah tergeletak tak bernyawa di rumah persembunyiannya. Sedangkan dari pihak DenBagus 88 tidak ada satu pun yang terluka.

Dengan hati yang riang, berangkatlah rombongan DenBagus 88 yang dipimpin Gathotkaca ke ibukota Amarta, membawa jenazah para teroris untuk diotopsi. Tiba di ibukota kerajaan, segera bergegas ke markas DenBagus 88 di BrigWay (Brigade Wayang), sedangkan jenazah-jenazah tersebut dikirim ke RSCW (Rumah Sakit Chusus Wayang). Di sana Gathotkaca menerima laporan bahwa, para teroris yang kebagian jatah ngebom istana raja, dapat dilumpuhkan dengan barang bukti 600 kg bahan peledak.



Mendengar laporan ini, bertambah berbunga-bunga hati Gathotkaca. Bangga prestasinya betapa moncer, sebab telah sukses membunuh gembong teroris yang terkenal sejagad wayang, Buto Cakil Yang Top beserta kaki-tangannya. Sambil menepuk-nepuk dadanya dan tertawa lebar, Gathtotkaca mematut dirinya di depan cermin, dan merasa ia adalah orang yang paling hebat. Belum selesai derai tawanya, ada bunyi ketukan keras 3x di pintu, dengan suara tinggi, dia berkata, "Siapa itu? Ganggu kesenangan orang aja". "Ma'af komandan, saya mau lapor", kata seorang prajurit dengan suara penuh ketakutan.
Setelah Gathtokaca membukakan pintu, masuklah prajurit tersebut dan membawa map yang berisi data tentang hasil otopsi Buto Cakil Yang Top.

Betapa kecewanya Gathotkaca, karena yang berhasil dibunuh itu bukan Buto Cakil Yang Top. Dia sudah berangan-angan dengan keberhasilannya ini, sang raja akan menaikkan pangkat dan tunjangannya.

Dan kecewanya menjadi-jadi setelah tahu bahwa yang terbunuh itu adalah si Dursala, wayang yang pernah membuatnya terluka parah. Padahal sebenarnya dia ingin sekali menjajal kesaktian Aji Narantaka yang sudah diberikan oleh Eyang Resi Seto itu.

Tancep Kayon

Celetukangarang
10 komentar:
zulhaq mengatakan...
Rabu, 17 Februari, 2010   Reply To This Comment

panjang banget euy....tapi seru seru!!!

dykapede mengatakan...
Rabu, 17 Februari, 2010   Reply To This Comment

lapor, link sudah terpasang. terima kasih, nice day...

sauskecap mengatakan...
Rabu, 17 Februari, 2010   Reply To This Comment

hahaqhah ada-ada aja, pembahasannya ngalor ngidul tapi menarik... saya suka ponari sweet nya... ngakak abis liatnya

dedekusn mengatakan...
Rabu, 17 Februari, 2010   Reply To This Comment

Pembelajaran yg OK =))
btw: PONARI SWEAT-nya banyakbanget
Piss

Celetukan Segar mengatakan...
Kamis, 18 Februari, 2010   Reply To This Comment

@zulhaq
panjang banget, tapi sinting nggak kelihatannya?

@dykapede
matur kasuhun.

@sauskecap
bisa buat inspirasi untuk menciptakan masakan yang lezat!

@dedekusn
semoga bisa jadi obyek penelitian yang baru!

kyaine mengatakan...
Kamis, 18 Februari, 2010   Reply To This Comment

lama sekali saya nggak baca lakon wayang mbeling mas. baca artikel di atas terasa terobati rasa kangen itu. klo dulu ilustrasi wayang mbeling dng kartun yg dibuat oleh goenawan pranjoto, kini dng begawan ponari.
ponari pancen oye!!!

Celetukan Segar mengatakan...
Jumat, 19 Februari, 2010   Reply To This Comment

kok yang terkenal malah ponari :-t

bundadontworry mengatakan...
Jumat, 19 Februari, 2010   Reply To This Comment

sungguh sangat panjang sekali, Mas Segaaarrrrrr...........
tapi, seneng bacanya , kayak lagi nonton di teater wayang gitu .
keren keren banget.
salam.

Anonim mengatakan...
Sabtu, 21 Januari, 2012   Reply To This Comment

hehehe, bocah ki nek mbeling, critane yo mbeling ngono kuwi. tapi aku seneng banget. susahing atiku dadi rodo sejuk.

Anonim mengatakan...
Sabtu, 21 Januari, 2012   Reply To This Comment

kapan yo cah mbeling iki nulis crito "cah jogja kelangan kiblat, bareng wis munggah mbale lali karo kuwajibane". aku pingin krungu lan pingin moco sasmitane. ngono.

:10 :11 :12 :13
:14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21
:22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29
:30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37
:38 :39 :40 :41
:42 :43 :44 :45
:46 :47 :48 :49
:50 :51 :52 :53
:54 :55 :56 :57
:58

Poskan Komentar