Celetukangobrol
Gus Dur adalah seorang ... ...

seorang yang humanis, demokratis, optimis, humoris, dan cinta akan pis!
Celetukanyambung...
Kamis, Desember 31, 2009 | 0 Comments
Narablog Tidak Bisa Berorganisasi Dalam Skala Nasional?!
Benarkah para narablog (istilah lain dari blogger) tidak bisa berorganisasi dalam skala nasional? Jawabannya bisa benar, bisa salah. Alasan yang memilih salah, adalah nyatanya para narablog sampai detik ini tidak mempunyai organisasi narablog tingkat nasional, adanya cuma lokal thok. Ini artinya mereka sulit untuk "bermain" pada wilayah yang lebih luas. Padahal suatu organisasi kelokalan macam ini cenderung etnosentris. Bisa jadi, ini karena budaya lokal khususnya kebahasaan dan kenyamanan bergaul masih mempunyai magnet yang cukup kuat. Sehingga proses integrasi narablog ke lingkup nasional sulit terlaksana.
Jika memang narablog tidak bisa berorganisasi skala nasional, saya kira bukan karena alasan di atas, namun karena hal berikut ini:
1. memalukan
Coba jika narablog itu bersatu dan mendirikan sebuah organisasi nasional. Singkatan organisasinya akan sungguh memalukan (baca: jorok).
Seperti ini contohnya: Asosiasi Narablog Nusantara disingkat ANU, alternatif singkatan lain adalah ANUS. Lihat kan! Memalukan, kedua singkatan tadi merupakan anatomi tubuh manusia, yaitu: depan dan belakang saja.
2. meniru
Nama lainnya juga sama saja, jika disingkat. Contoh : Persatuan Narablog Indonesia, disingkat PNI. Lihat! Seperti nama partai Orde Lama dan Orde Reformasi.
3. kuno
Jelas kuno dan membuat orang salah sangka, apabila para narablog itu mendirikan organisasi dengan nama ANTIK (kepanjangan dari Aliansi Narablog Aktif). Masyarakat akan mengira narablog adalah kumpulan kolektor barang kuno atau penjual barang purbakala.
Celetukanyambung...
Tim Pencari Malu
Selama ini kita selalu membuat Tim Pencari Fakta, namun akhirnya tim tersebut rekomendasinya sebagian besar hanyalah macan kertas. Kelihatan sangar, tapi ompong kekuatan legal-formilnya.
Untuk itu ke depan kita tidak perlu membuat Tim Pencari Fakta (TPF), karena nyatater - ternyata kerjanya dianggap angin. Banyak fakta yang diungkap ke permukaan, namun tak mampu membuat para pelaku yang terlibat tidak merasa malu.
Untuk itulah perlu dibuat tim pengganti (cuma ganti huruflah), yang kerjanya bisa membuat malu para pelaku. Meskipun anggarannya sama (denger-denger paling tidak M-M an), tapi dapat membuat jera si pelaku.
Ini tentunya lebih baik, daripada keluar miliran rupiah, namun tanpa hasil yang pasti.
Karena berhubungan dengan malu, pasti alangkah baiknya jika tim ini kita namai Tim Pencari Malu. Kenapa dinamai dengan Tim Pencari Malu? Sebabnya adalah dengan dinamai Tim Pencari Malu, tiap anggotanya akan tersugesti untuk malu, kalau tidak dapat mencari bukti-bukti kebenaran dan menyeret para pelakunya ke meja hijau. Selain itu merasa malu, karena sudah dapat gaji, bonus dan fasilitas yang super wah!
Sedangkan bagi para pelaku yang dituduh bersalah, dipastikan mereka akan merasa malu, dari malu biasa sampai malu banget. Karena malunya sudah dibeberkan ke muka umum. Intinya siapa sih yang tidak malu, kalau malunya dipertontonkan ke khalayak ramai?
Dan hal itu akan membuat mereka mau tidak mau harus bermuhasabah. Yang endingnya mereka mau bertobat dan menyerahkan diri ke pihak yang berwenang tanpa harus ditangkap paksa atau di-makzulkan!
Celetukanyambung...
Lebih Lambat Lebih Nikmat
Mungkin saja lebih cepat lebih baik, namun bisa jadi lebih lambat lebih nikmat.
Kesimpulannya cepat atau lambat adalah tergantung pada situasi dan kondisinya.
Lho baru satu kalimat, kok sudah disimpulkan? Apa nggak boleh? Memang menurut kebiasaan, kesimpulan ditarik sesudah ada uraian yang berkeliling, luas, panjang, lebar dan tinggi. Tapi ndak mustahil tho, mengambil kesimpulan setelah satu-dua kalimat. Yang penting kan esensinya sudah masuk atau sudah sesuai dengan kebutuhan.
Biologi
Karena judulnya lebih lambat lebih nikmat, kita akan gali "yang lambat tersebut" dari satu segi pengetahuan alam. Dalam dunia biologi (ilmu yang ngurusi yang hidup-hidup), ada bahasan tentang reproduksi manusia, atau bahasa sederhananya (maksudnya dipaksakan) adalah urusan ranjang. Pada urusan ranjang, tak ada lelaki pun yang mau disebut kelompok MAS EDI (ini singkatan, panjangannya tentu semua sudah sama tahu). Karena jika terlibat dalam kelompok MAS EDI, maka kepuasan lahir-batin takkan tercapai dalam sebuah hubungan intim. Apabila ini terus berlanjut, akan menyulut goncangan sistemik (meminjam istilah Mbak Sri & Bang Boediono) dalam rumah tangga. Sehingga wajar kalau ada pria berusaha sekeras tenaga untuk membentengi dirinya dari kelompok MAS EDI. Dan tentunya gerombolan anti MAS EDI ini dapat dipastikan termasuk kalangan kaum sex-fundamentalis yang "selalu" wajib terlambat dalam berhubungan badan.
Mereka merasa bangga apabila disebut kelompok Orgasm Multiple (istilah tepatnya adalah Multiple Orgasm, agar terlihat enak didengar dalam singkatan, maka dibalik saja, sehingga singkatannya adalah OM). Pokoknya OM-OM mania lah!
Untuk itu yang tertarik paparan ini dapat masuk ke sini
Blogologi
Dalam blogologi (sebutlah demikian, ilmu yang mengurusi hidup-matinya blog) tentunya juga mengenal hal yang di atas.
Jadi anggaplah saya bisa posting sekarang ini, sebabnya adalah seperti di atas. Selain karena daripada banyak kerjaan.
Celetukanyambung...
Kiai DAPUR dan Kiai KAPAK
KERIS apa yang paling banyak diperebutkan orang saat ini? Keris apa pula yang paling ditakuti para pejabat dan politisi saat ini? Ternyata bukan Nogososro Sabuk Inten atau Keris Kiai Sengkelat, Kolomunyeng, atau yang lain. Tapi, menurut Mas Prawito, salah satu pelakon drama Tikungan Iblis karya Emha Ainun Nadjib yang pekan ini dipentaskan di Taman Ismail Marzuki, adalah, pertama Keris Kiai DAPUR (tapi dengan menghilangkan huruf A dan U), dan kedua Keris Kiai KAPAK (dengan catatan dua huruf A dihilangkan). Berikut jawaban-jawaban bebas dari apa yang dikatakan Mas Prawito, penyuka klenik yang kecewa burung Garuda telah menjadi burung Emprit itu, atas beberapa pertanyaan langsung dari Anda.
Anda: Apa kehebatan Keris Kiai DAPUR itu Mas Prawito?
Mas Prawito: Oho, Keris Kiai DAPUR itu sakti karena pemegangnya segera memiliki pengaruh yang menentukan dalam proses pembuatan aturan main dalam tata-hidup dan tata-laku masyarakat, bangsa, dan negara. Keris ini bisa digunakan untuk melindungi berbagai kepentingan diri, kelompok, partai politik, dan yang lain. Bisa dipakai memperkaya diri juga lho. Tapi, ya itu, efek sampingnya perlu diperhatikan, biasanya kalau orang sudah menggenggam Keris Kiai DAPUR ini, matanya langsung terasa berat, jadi ngantukan, suka ngantuk. Hmmm, heran juga ya, apa pemegangnya terlalu banyak melek, atau gimana?
Anda: Mas, saya dengar juga, katanya, banyak orang yang kini sedang mencari pekerjaan dengan mengikuti sayembara perebutan Keris Kiai DAPUR itu?
Mas Prawito: He he, mencari pekerjaan? Hmmm, bisa jadi, mengingat banyaknya penganggur di sekitar kita. Tapi, ingatlah, sesungguhnya para pemegang Keris Kiai DAPUR kelak tak boleh main-main, tak boleh digunakan seenak wudhel (pusar) sendiri, mengingat keris tersebut merupakan berisi roh rakyat yang diwakilinya. Keris ini ada rohnya lho, nggak main-main ini.
Anda: Kalau Keris Kiai KAPAK Mas, kenapa ditakuti?
Mas Prawito: Keris Kiai KAPAK itu cuma dimiliki oleh lima orang, lima pendekar, pandawa lima. Keris itu paling ampuh dan sangat ditakuti sekarang ini khususnya oleh para pejabat dan politisi, yang suka menyelewengkan wewenang dan uang negara, alias para koruptor. Keampuhan keris ini, adalah kemampuannya untuk mendeteksi sinyal-sinyal dan gelombang-gelombang yang terpancar dari pesawat telepon genggam siapa saja. Kemampuan mengendusnya jitu, dan menjerat sasaran dengan super jitu.
Anda: Kalau para pejabat dan politisi, atau para rekanannya tidak bersalah, mengapa perlu takut sama Keris Kiai KAPAK, Mas Prawito?
Mas Prawito: He he he, justru keampuhan Keris Kiai KAPAK ini justru terletak pada kemampuannya memberi efek takut pada pejabat, artinya biar mereka kerja secara amanah dan benar, akuntabel dan transparan. Tapi, saya khawatir saking ampuhnya keris ini, maka akan menjadi rebutan antar-elite yang berkuasa, justru untuk melindungi kepentingan diri dan menakut-nakuti lawan-lawannya. Kalau sang keris digunakan untuk kepentingan politik, ya hancur-hancuran. Kalau keris ini digunakan terlalu berlebihan, pembangunan bisa nggak jalan lho, karena semua pejabat dan para rekanan takut mengerjakan proyek-proyek. Hmmm, tapi kita percaya pada lima pemegang keris sakti ini, bahwa mereka bisa obyektif dan adil, tak mudah dikendalikan oleh yang berkuasa.
Anda: Jangan Mas, biarkan kami mengira-ira saja, biarkan kami penasaran, seperti apa kedua keris itu.(M Alfan Alfian, FISIP Universitas Nasional, Jakarta)
Sumber : Harian Umum Pelita, Edisi Kamis, 24 September 2009
Celetukanyambung...
Hari Kosong-Kosong Nasional (Harkosnas)
Tak salah kiranya di hari lebaran, ada ungkapan "kosong-kosong" ketika ada dua orang atau lebih (yang biasanya sudah saling mengenal) mengucapkannya.
Meski terlihat cengengesan (kurang meresapi kemuliaan hari yang agung itu), namun nyatanya ungkapan "kosong-kosong" itu sebuah pengingat, suatu nasehat untuk kembali ke arah kesucian. Bukankah bulan Ramadhan merupakan bulan penempaan bagi para pribadi muslim, yang endingnya adalah kembali memahami arti penciptaannya (baca: fitri)?
"Kosong-kosong" adalah sikap ksatria yang humanis (sekaligus humoris), yang tanpa segan, tanpa tedheng aling-aling mengakui dosa dan khilaf yang telah diperbuatnya. "Kosong-kosong" adalah wacana batiniah, sehingga untuk itu tak perlulah ada pengumbaran aib dan kenistaan masa lalu. "Kosong-kosong" adalah juga penggambaran kedewasaan sikap dalam menghayati peran sebagai khalifah fil ardh.
Jika ada yang tidak mau memakai atau bahkan melecehkan bin mencaci-maki ungkapan "kosong-kosong", tidaklah mengapa. Karena tidak ada pakem resmi (baca: dalil), yang menyebutkan wajib umat Islam harus membaca bacaan tertentu. Seperti juga halnya, mudik dan beranjang sana, yang juga tidak punya pijakan nash tertentu.
Akhirul kalam, di Harkosnas ini, saya ucapkan "kosong-kosong" kepada semua pihak (khususon kepada teman-teman blogger) yang telah saya sakiti, acuhkan dan berbagai hal jelek lainnya, baik yang saya sengaja dan rencanakan, maupun yang tidak.
Celetukanyambung...
Menguak Makna Minal Aidin Wal Faizin
Menurut Budi Sofiandi Minal 'aidin artinya dari golongan yang kembali. Dan wal faizin artinya dari golongan yang menang. Jadi makna ucapan itu adalah semoga kita termasuk golongan yang kembali (maksudnya kembali pada fitrah) dan semoga kita termasuk golongan yang meraih kemenangan.
Sekarang kita mencoba untuk membongkar asal kata 'Aidin dan Faizin. Darimana sih mereka? 'Aidin itu isim fa'il (pelaku) dari 'aada. Kalau anda memukul (kata kerja), pasti ada proses "pemukulan" (masdar), juga ada "yang memukul" (anda pelakunya). Kalau kamu "pulang" (kata kerja), berarti kamu "yang pulang" (pelaku). Pelaku dari kata kerja inilah yang dalam bahasa Arab disebut dengan isim fa'il.
'Aidin atau 'Aidun itu bentuk jamak (plural) dari 'aid, yang artinya "yang kembali". Mungkin maksudnya adalah "kembali kepada fitrah" ("kembali berbuka", pen) setelah berjuang dan mujahadah selama sebulan penuh menjalankan puasa.
'aada = ia telah kembali (fi'il madhi).
Ya'uudu = ia tengah kembali (fi'il mudhori)
'audat = kembali (kata dasar)
'ud = kembali kau! (fi'il amr/kata perintah)
'aid = ia yang kembali (isim fa'il).
Kalau Faizin? Faizin juga sama. Dia isim fa'il dari faaza (past tense) yang artinya "sang pemenang". Urutannya seperti ini:
Faaza = ia [telah] menang (past tense)
Yafuuzu = ia [sedang] menang (present tense)
Fauzan = menang (kata dasar).
Fuz = menanglah (fi'il amr/kata perintah)
Fa'iz = yang menang.
'Aid (yang kembali) dan Fa'iz (yang menang) bisa dijamakkan menjadi 'Aidun dan Fa'izun. Karena didah ului "Min" huruf jar, maka Aidun dan Faizun menyelaraskan diri menjadi "Aidin" dan "Faizin". Sehingga lengkapnya "Min Al 'Aidin wa Al Faizin". Biar lebih mudah membacanya, kita biasa menulis dengan "Minal Aidin wal Faizin".
Lalu mengapa harus diawali dengan "min"? "Min" artinya "dari". Sebagaimana kita ketahui, kata "min" (dari) biasa digunakan untuk menunjukkan kata keterangan waktu dan tempat. Misalnya 'dari' zuhur hingga ashar. Atau 'dari' Cengkareng sampe Cimone.
Selain berarti "dari", Min juga mengandung arti lain. Syekh Ibnu Malik dari Spanyol, dalam syairnya menjelaskan: Ba'id wa bayyin wabtadi fil amkinah Bi MIN wa qad ta'ti li bad'il azminah Maknailah dengan "sebagian", kata penjelas dan permulaan tempat- -Dengan MIN. Kadang ia untuk menunjukkan permulaan waktu. Dari keterangan Ibnu Malik ini, kita bisa mendapatkan gambaran bahwa MIN pada MIN-al aidin wal faizin tadi menunjukkan kata "sebagian" (lit-tab'idh ) . Jadi secara harfiyah, minal 'aidin wal-faizin artinya: BAGIAN DARI ORANG-ORANG YANG KEMBALI DAN ORANG-ORANG YANG MENANG.
Lantas apakah pemakaiannya tidak bertentangan dengan ucapan Rasulullah yaitu, Taqobballahu Minna Wa Minkum kepada para sahabat, yang artinya semoga Allah menerima aku dan kalian (maksudnya menerima di sini adalah menerima segala amal dan ibadah kita di bulan Ramadhan)?
Tentu tidak. Karena tidak ada dalil yang mengatakan suatu kewajiban untuk mengatakan hal tersebut. Apalagi para sahabat juga menambahkan kata ucapan Shiyamana Wa Shiyamakum, yang artinya puasaku dan puasa kalian. Setelah ucapan Taqobballahu Minna Wa Minkum, tanpa ada tuntunan dari Rasulullah. Selain itu kita juga menambahkan kata Taqobbal Yaa Karim di belakangnya.
Apalagi di Arab sekarang ucapan yang lebih populer adalah "Kullu 'Am Wa Antum Bi Khair" atau bahasa TKInya "Kullu Sanah Wa Anta Thoyyib" (semoga tiap tahun anda selalu baik).
Terserah bagi Anda, memilih yang mana, karena semua ucapan di atas adalah baik. Yang terpenting saat mengucapkannya, disertai hati dan sikap yang tulus ikhlas. Bukan gara-gara ikut-ikutan semata.
Celetukanyambung...
