Celetukangobrol
Belajar Aji Narantaka Dari Tukang Pidjit
Siapa yang tak mau sakti mandraguna (bukan mandra-nya omaswati, lho)? Mau dong jawab penggiat kesaktian. Apalagi kesaktian yang cuma tinggal tempel saja pemberiannya, nggak usah puasa, melekan, bertapa, sesaji, tanpa mantra lagi. Cukup fokus pada target, dan musnahlah target tersebut (wah mirip dengan rudal).
Mungkin bisa jadi inilah alasan mengapa postingan artikel Aji Narantaka bag. 1 sampai 4, sering dikunjungi. Tentu pertama reaksi saya adalah mangkel-maringkel, tapi setelah dipikir-pikir itu kan Hak Azasi para pengunjung. Terserah mau lihat, baca dan komentar artikel mana yang disukai.
Informasi ini saya peroleh dari Tukang Feedjit (baca: Pidjit) yang setia mendampingi blog saya. Saya jadi terharu atas kesetiaannya. Tak ada ungkapan yang layak diucapkan selain beribu-ribu terima kasih (nggak pakai bertrilyun-trilyun terima kasih, habis sudah di bailout-kan ke Bank Century).
Aji Narantaka ini merupakan cerita wayang, yang saya kutip secara bebas dari : Majalah Jayabaya No. 50 Minggu III Agustus 2009, pada rubrik Wayang Gombal dengan Lakon Aji Narantaka oleh Ki Guna Watoncarita.
Dan pastinya yang belum pernah baca artikel ini jadi penasaran, makanya baca saja ceritanya di bawah ini yang super duper panjangnya :
Setelah ledakan bom yang terjadi di Hotel Ma'erot dan Cak Ton. Kerajaan Amarta jadi Siaga 1. Punggawa kerajaan dan telik sandi intensif melakukan pengamanan. Setiap ada orang yang membawa banyak barang, khususnya yang bawa ransel, langsung digeledah. Kalo gini terus, Mas BP, bisa ketangkap nih. Kemana-mana dia kan nggendong tas ransel!
Apalagi anaknya para Pandhawa, macam Gathotkaca, Antareja, Antasena dan Abimanyu, juga Setyaki sok over-acting (kebacut).
Hingga pada suatu hari ditangkapilah seorang ibu-ibu yang membawa pisau dalam jumlah besar, dengan interogasi kaya' Ndoro Meneer, Gathotkaca menanyai sang ibu itu.
Gathotkaca : "Kowe orang pasti teroris!"
Ibu : "Tidak tuan!"
Gathotkaca : "Kalo tidak kenapa bawa-bawa itu pisau."
Ibu : "Itu pisau kulakan, tuan!"
Gathotkaca : "Kulakan darimana?"
Ibu : "Dari Malaysie, tuan. Itu lho negeri asal suaminya Manohara."
Gathotkaca : "Ik tidak percaya, kowe pasti bojonya Buto Cakil Yang Top."
Ibu : "Bukan tuan, saya ini Nyi Topo, istrinya Ki Topo."
Tentu jawaban Nyi Topo itu tidak memuaskan bagi para putra Pandhawa itu. Untung datang Sadewa yang terkenal seperti Cinta anaknya Uya Kuya, yang bisa baca pikiran orang. Setelah diperiksa telapak tangannya, Nyi Topo akhirnya dikeluarkan bebas murni, karena tidak terlibat.
Sekarang gantian Gathotkaca, cs. dikuliahi oleh Sadewa. Agar jangan sembarangan menangkap orang. Dan Sadewa ingin mereka kuliah dulu di Universitas Indonesia, ngambil master di bidang Kajian Stratejik Intelijen. Biar pinter dan ngerti akal bulus teroris yang suka mbulet-bulet kaya' ulet, waktu diinterogasi dan juga bisa selangkah lebih maju dibandingkan mereka itu. Kalo setelah lulus, kok terorisnya masih lolos aja. Kata Pak Syamsir Siregar (Kepala BIN), itu namanya Sontoloyo.
Setelah itu patroli pun digeber. Namun nyatater, ternyata teroris pandai main petak umpet. Akhirnya Gathotkaca jadi mupeng dan ilfil, lalu daripada keterusan, mending ngajak para ksatria latihan perang di Tegal Kurusetra, pikirnya. Meskipun latihan perang, semua alutsista dikeluarkan dari produksi Amerika sampai buatan Swiss, macam Swiss Army Knife pun dinampakkan. Prabu Duryudana yang tinggal tidak jauh dari Tegal Kurusetra, sering terbangun tiba-tiba, karena suara gedebukan dan jeduderan.
Lama-lama akhirnya Prabu Duryudana mangkel dan memanggil Patihnya.
Prabu Duryudana : "Paman Sengkuni, saya tidak dapat tidur nyenyak. Padahal sebentar lagi ada Pidato Kerajaan tentang HUT Proklamasi Astina."
Patih Sengkuni : "Gimana lagi, bos? Tegal Kurusetra itu free zone area. Siapa aja boleh pake? Nggak peduli untuk nanggap Inul maupun Cak Nun. Gini aja, Nak Prabu, sumpal telinganya pake cotton-bud punyanya KangBoed."
Ndilalah kersaning Allah, karena kurang anggaran helikopter yang dikomandoi Gathotkaca jatuh dan menimpa rumah salah satu warga Kerajaan Astina. Keluarga Durmagati yang lagi rame-rame kenduri anaknya yang ke-12 mengalami sial. Banyak anaknya yang mati sambil bawa pincukan berisi pecel mercon.
Melihat hal ini Prabu Duryudana kirim Nota Protes ke Pandhawa, menuntut penghentian LATGAB (Latihan Perang Gabungan).
Soal ganti rugi nggak masalah, tapi soal penghentian latihan perang, nanti dulu Bos. Tegal Kurusetra itu kan daerah bebas pakai. Beda dengan Alun-Alun Kartasura, itu mesti jadi cagar budaya. Kata Antasena sambil nyanyi-nyanyi "Semut ireng anak-anak sapi, kebo bongkang nyabrang kali Bengawan ........ Solo. Riwayatmu ini, sedari dulu selalu jadi perhatian insani."
"O lha cah edan! Diberitahu orang tua, malah kurang ajar", ujar Pandhita Durna.
"Laporkan aja ke Mbah Gesang, suruh bayar royalti, supaya kapok. Biar Mbah Gesang nggak ngalami nasib kaya' Mbah Surip yang nggak dibayar-bayar RBT-nya", imbuh Patih Sengkuni.
Karena protes tidak ditanggapi, akhirnya Prabu Duryudana utusan Raden Dursala untuk memberi pelajaran Gathotkaca, cs. yang kurang ajar itu.
Untuk menghadapi Gathotkaca, Raden Dursala memakai Aji Gineng (ada yang menyebut Aji Kumbala Geni). Katanya aji ini bekas milik Adji Massaid yang anggota DPR itu lho. Selain dirinya juga ada Aji Pangestu yang memilikinya. Aji Gineng dinyatakan berkekuatan 5.000 volt. Cukup untuk menyalakan listrik sekecamatan.
Gathotkaca yang berotot kawat dan bertulang besi itupun tak berdaya menandingi keampuhan Aji Gineng. Dan seperti ini ilustrasinya :
Diiringi para Punakawan, Gathotkaca lari dengan luka sekujur tubuh. Melihat kondisi ini Bagong nggak tega. Terus Bagong berkata, "Mending Ndoro tak gendhong, daripada lari kecapekan! Pasti dijamin mantep tho, enak tho, ayo kemana?". "Ke Ustadz Haryono saja", bilang Gathotkaca.
Sesampainya di regol rumah Ustadz Haryono yang berada di komples MPW (Majelis Permusyawaratan Wayang), para satpam menghentikan mereka.
Satpam : "Anda sekalian darimana?"
Gareng : "Kami dari Tegal Kurusetra. Kami mau minta tolong diobati sama Ustadz Haryono".
Satpam : " Boleh aja, asal kalian pada pake baju koko dan peci putih!"
Petruk : "Masak pake ginian, nggak boleh."
Satpam : "Nggak boleh. Meskipun kalian cowok semua, tapi itu puser pada kelihatan. Itu pornoaksi (tidak menutup aurat)."
Semar : "Terus gimana solusinya?"
Satpam : "Itu ada warung koperasi yang menjual aneka busana muslim. Harganya nggak mahal dan sekarang lagi diskon gedhe, 75%."
Semar : "Blaik kita pada nggak bawa duit. Bisa modar nih Ndoro kita."
Bagong : "Nggak usah khawatir Mo, kita pergi ke Ponari."
Tanpa pikir panjang mereka melesat ke rumahnya Ponari. Dan betapa terkejutnya mereka melihat rumah Ponari, ternyata rumahnya besar banget. Nggak seperti yang ada di televisi selama ini.
Tiba di rumah Ponari, malah Bagong mendapat sambutan hangat. Bagong jadi bingung, karena banyak yang rebutan mau foto bersama. Bagong berkata " Kenapa kalian pada ngerubungi aku?" "Kamu pasti Mbah Surip, tho?" celetuk Mbokne Ponari. Mendengar ini Bagong ketawa ngikik. "Tidak Mbok! Saya ini Bagong. Saya kemari mau minta tolong ama Ponari untuk nyembuhin Ndoro saya Gathotkaca." "O, kirain! Tapi Ponarinya nggak ada, lagi main film ama Dinda Watson."
Punakawan mendengar ini, pikirannya jadi judeg. Harus kemana lagi cari obat. Kok gagal maning, gagal maning terus. Mbokne Ponari yang tahu kegelisahan para Punakawan, hanya tersenyum dan berkata, "Ya uwis, kalian ndak usah khawatir, ini lho ada minuman instan kreasi Ponari. Dijamin mak nyus khasiatnya. Dan gratis nggak usah bayar" Mendengar ini, hati Punakawan, jadi mak plong. Dan tanpa menunggu komando dua kali, Bagong memberikan minuman itu pada Gathotkaca yang sudah setengah kelenger.
Setelah minum Ponari Sweat, Gathotkaca njranthal kembali perkasa seperti sediakala. Dan tak lupa Gathotkaca mengucapkan terima kasih atas kebaikan Mbokne Ponari. Kemudian Mbokne Ponari bertanya, "Setelah kesini, kalian kemana?" "Mau ke rumahnya Eyang Resi Seto!", jawab Gathotkaca. "O, ke rumahnya Kak Seto! Simbok udah kenal, malahan Ponari just friend ama beliaunya. Rumahnya Kak Seto kan jauh, mending naik mobilnya Ponari."
"Dan ini ada kaos Ponari Sweat untuk cinderamata. Bagus untuk dibuat klesetan", imbuh Mbokne Ponari.
Punakawan dan Gathotkaca kaget setelah memasuki mobilnya Ponari, kaget ndak nyangka. Mobilnya Ponari yang kaya' gitu ternyata dilengkapi berbagai fasilitas elektronik, macam televisi, kulkas, laptop dan lain sebagainya. Bahkan mobil itu dilengkapi dengan peralatan tempur. Gile bener tuh mobil, saingan dong dengan mobilnya Raja Amarta. Malah kata sopirnya, mobil itu persis seperti mobil transformer, yang bisa berubah wujud menjadi robot.
Mendengar ini, Gareng yang gaptek hanya bisa melongo aja.
Namun dasar Bagong yang hobi browsing (juga blogging), langsung buka tuh laptop, tanpa ba-bi-bu. Dan cuek bebek denger penjelasan sopir itu. Maklum Bagong yang pernah kesengsem sama Marshanda, langsung cari-cari warta tentang keadaan terkini Marshanda.
Ia ragu masak wong seayu Marshanda make narkoba, jelas ndaklah!
Pasalnya dia tahu "jeroan" alias luar-dalem kepribadiannya, karena sewaktu dulu pernah jadian ama yayang Marshanda dan ngaku bernama Bagong Wong.
Lagi asyik-asyik ngebaca gosip, Petruk nyenggol Bagong untuk cari berita polkam terbaru. Jangan cuman ngurusin cewek melulu, ujar Petruk. Sambil nggrundel, Bagong nurutin omongannya kakang nomor dua-nya itu. Sejurus kemudian nampak berita tentang insiden Pidato Kerajaan Amarta di gedung MPW (Majelis Permusyawaratan Wayang). Lagu "Amarta Raya" lupa disebut sama Durleksana, langsung saja hal ini menyulut kemarahan Kartababan yang emang dari sononya sudah patriotik. Daripada rame dan merusak agenda sidang, akhirnya lagu "Amarta Raya" dinyanyikan di akhir sidang.
Membaca berita ini, Petruk yang suka klenik dan hobi baca Tabloid Klenikmania dan Majalah Mistikoklagi, langsung tanya sama Semar,
Petruk : "Ada isyarat apa ini, Mo?"
Semar : "Nggak ada. Namanya lupa itu sih biasa. Bukankah Mbah Kyai pernah bilang bahwa manusia suka lupa."
Petruk : "Masak lupa? Saya ndak yakin."
Semar : "Kalo nggak yakin, apa pendapatmu tentang kejadian tersebut?"
Petruk : "Saya ndak punya pendapat. Tapi dulu pernah ada kejadian Panji Ratmoko mimpin sidang, dan kepala palunya lepas."
Semar : "Jangan menafsir kejadian itu berlebihan. Anggap saja ini kejadian biasa, kelalaian yang wajar untuk dima'afkan. Ndak mungkin tho, pejabat sekelas Durleksana sengaja lupa. Karena kalo benar ini dilakukan, integritasnya mau dikemanakan? Apalagi anaknya yang pernah memimpin Amarta Air, yang sering jatuh itu, gentle mengatakan bahwa dirinya pernah mismanajemen soal sering rontoknya Amarta Air."
Dan tak terasa saat ngobrol itu, kendaraan yang ditumpangi, sudah sampai di rumah Eyang Resi Seto, yaitu di Pertapaan Cemara Sewu. Wuih sejuk banget pertapaannya, bisa buat villa nih, ujar Gareng. Saat melangkah memasuki halaman pertapaan, maklum Gareng adalah yang punya Gareng Podomoro Group, makanya ndak bisa lihat tanah keleleran tak karuan. Melihat pertapaan Eyang Resi Seto yang begitu asri dan menyejukkan, insting bisnisnya berbicara. Nanti aku mau nego soal harga per meter kawasan pertapaan ini sama eyang resi, pikirnya.
Sambil uluk salam, si sopir memasuki rumah sang resi. Rupanya ia sudah biasa kemari. ditangannya ada bungkusan gula dan kopi. Eyang resi emang tersohor kesaktiannya, ngerti sakdurunge winarah. Jadi disambutlah mereka dengan berbagai hidangan yang menggiurkan macam pecel, empek-empek, soto, bakso, gado-gado, kerak telor, siomay, batagor, puthu, wingko, rangin, peuyeum, es teler, wedang ronde, juga makanan barat kaya' pizza, burger, dan fried chicken ala America. Sopir yang sudah akrab sama eyang resi, langsung menciumi tangan sang resi, tak ketinggalan para punakawan juga Gathotkaca. Sopir itu berkata, ini eyang sedikit oleh-oleh dari Mbokne Ponari. Makasih Cu, tapi kok gula dan kopi? Di gudang melimpah ruah, kemarin dapet bantuan raskin dan sembako. Padahal eyang sudah bilang petugasnya, bahwa eyang ini bukannya orang miskin, namun petugasnya ngeyel, karena katanya yang dapet bantuan orang-orang yang rumahnya masih dari kulit kayu dan beratap ilalang. Eyang sudah bilang kalo rumah eyang sengaja dibuat kaya' gitu, biar bisa menghayati arti kehidupan (baca: sufi). Ma'af eyang! Lantas ngasih apa, lanjutnya. Jaman canggih gini, ya jelas voucher dong Cu!, kata eyang sekali lagi. Mendengar ini, Semar hanya bisa geleng-geleng kepala.
Setelah percakapan itu usai. Gathotkaca bicara pada eyang resi, bahwa kedatangannya kemari untuk mencari penangkal Aji Gineng. Masalah itu mah gampang kata eyang resi.
"Tenang-tenang. Urusan ilmu penangkal itu sih gampang. Yang susah itu membatalkan keputusan MK tentang sengketa pemilu", ungkap Eyang.
Akhirnya Eyang Resi Seto menginstall Aji Narantaka (ada yang menyebut Aji Kumbala Geni) di kepala Gathotkaca. Narantaka berasal dari kata Nara artinya orang dan Antaka yang artinya pingsan. Meskipun begitu, pada kenyatannya siapapun yang terkena ajian ini tidak saja menjadi pingsan, namun bisa remuk redam sampai hancur lebur.
Ajian ini bagi kaum instan-rasionalisme yang suka ilmu kesentikan, tentu sangat disukai, karena tanpa ada ritual bakar kemenyan, puasa, mandi kembang, maupun japa mantra. Jadi cukup dengan kekuatan pikiran kaya' para The Master aji tersebut menjadi aktif.
Setelah diberi ajian ini, Gathotkaca dan rombongan berpamitan meninggalkan pertapaan. Namun baru beberapa meter. Pager-nya Gathotkaca berbunyi, dan terlihat pesan dari Antareja, kakangnya Gathotkaca, yang menjadi komandan intelijen DenBagus 88. Pesannya tersebut adalah di bawah Pertapaan Cemara Sewu, Buto Cakil Yang Top bersama gerombolan teroris Jama'ah Wayangiyah bersembunyi. Kebetulan nih, pikir Gathotkaca. Dan Gathtokaca pun menyuruh sopir untuk ngebut. Agar Gathotkaca dapat segera bertemu dengan teman-temannya, para ksatria yang tergabung dalam pasukan DenBagus 88.
Sesampainya di sana Gathotkaca segera menemui Antareja dan bersalin dengan pakaian berrompi. Dan menenteng peralatan tempur canggih.
Dan bersama teman-temannya tadi, Gathotkaca melakukan pengepungan dan memberikan peringatan. Namun peringatan ini rupanya tidak digubris oleh gerombolan teroris itu. Sehingga aksi tembak-menembak pun terjadi, sampai 18 jam. Usai tembak-menembak, terlihat para teroris sudah tergeletak tak bernyawa di rumah persembunyiannya. Sedangkan dari pihak DenBagus 88 tidak ada satu pun yang terluka.
Dengan hati yang riang, berangkatlah rombongan DenBagus 88 yang dipimpin Gathotkaca ke ibukota Amarta, membawa jenazah para teroris untuk diotopsi. Tiba di ibukota kerajaan, segera bergegas ke markas DenBagus 88 di BrigWay (Brigade Wayang), sedangkan jenazah-jenazah tersebut dikirim ke RSCW (Rumah Sakit Chusus Wayang). Di sana Gathotkaca menerima laporan bahwa, para teroris yang kebagian jatah ngebom istana raja, dapat dilumpuhkan dengan barang bukti 600 kg bahan peledak.
Mendengar laporan ini, bertambah berbunga-bunga hati Gathotkaca. Bangga prestasinya betapa moncer, sebab telah sukses membunuh gembong teroris yang terkenal sejagad wayang, Buto Cakil Yang Top beserta kaki-tangannya. Sambil menepuk-nepuk dadanya dan tertawa lebar, Gathtotkaca mematut dirinya di depan cermin, dan merasa ia adalah orang yang paling hebat. Belum selesai derai tawanya, ada bunyi ketukan keras 3x di pintu, dengan suara tinggi, dia berkata, "Siapa itu? Ganggu kesenangan orang aja". "Ma'af komandan, saya mau lapor", kata seorang prajurit dengan suara penuh ketakutan.
Setelah Gathtokaca membukakan pintu, masuklah prajurit tersebut dan membawa map yang berisi data tentang hasil otopsi Buto Cakil Yang Top.
Betapa kecewanya Gathotkaca, karena yang berhasil dibunuh itu bukan Buto Cakil Yang Top. Dia sudah berangan-angan dengan keberhasilannya ini, sang raja akan menaikkan pangkat dan tunjangannya.
Dan kecewanya menjadi-jadi setelah tahu bahwa yang terbunuh itu adalah si Dursala, wayang yang pernah membuatnya terluka parah. Padahal sebenarnya dia ingin sekali menjajal kesaktian Aji Narantaka yang sudah diberikan oleh Eyang Resi Seto itu.
Celetukanyambung...
Rabu, Februari 17, 2010 | 10 Comments
Membacalah Akan Cartikel Aku Nih
Memang
Aku
Cuma
Akan
Nasehatimu
Menasehatimu
Akan
Cehidupan (kehidupan)
Alir (yang mengalir)
Nekarang (sekarang)
Musibah
Anah (tanah)
Congsor (longsor)
Anjir (banjir)
Nair (air)
Menderunya
Ating (puting)
Celiung (beliung)
Api
Ngebakar (membakar)
Mestinya
Amu (kamu)
Cermati
Ari (cari)
Nolusinya (solusinya)
Melihat
Assa (massa)
Cemo (demo)
Angan (jangan)
Nerasi (dikerasi)
Membual
Akan
Ceberhasilan (keberhasilan)
Adak (tidak)
Nerlu (perlu)
Menyejahterakan
Akyat (rakyat)
Cadikan (jadikan)
Acuan
Nutamamu (utamamu)
Celetukanyambung...
Selasa, Februari 16, 2010 | 12 Comments
Kata Itu Begitu Menyalak Liar Membisingkan
Kata Itu
begitu
menyalak liar
membisingkan
ruang-ruang
dalam kantornya.
Kata Itu
tanpa dinyana
menggigit
setiap
meja, kursi,
kertas, dan pena.
Dengan
tak peduli
nanar mata,
kepalan tangan,
dan gelengan
di sekeliling.
Kata Itu
menyeret-nyeret
meja, kursi,
kertas, dan pena
keluar
dari kantornya.
Kata Itu
pun lalu
melenyap
dalam terik
siang
yang terpanggang
Hanya
kepalsuan geram
yang menghujat
ketika
Kata Itu
pergi.
Meski
pelan
cuma dia
yang berani
bilang :
”Kata Itu, telah melakukan tugas dengan baik”.
Ya
memang dia
yang nampak
putih
dalam kumpulan hitam
yang pekat.
Kepekatan
yang telah
mencincang
kemurnian
nurani dan
akal.
Kepekatan itu
juga punya
seribu wajah
durjana
yang sering
beralih rupa.
Dan
wajah yang
sering terlihat
adalah
kepura-
puraan.
Kepura-puraan itu
walau
berharga
mahal
tak berdaya
menghadapinya.
Pernah
suatu kali
kepura-puran itu
coba dekati
dengan
senyum kelicikan.
Namun dia
tak bergeming
bahkan
malah
meradang
hebat.
Kepura-puraan itu pun
ditendang keras sekali
hingga terpelanting
dan jatuh
dalam kememaran
tak terperi.
Udara
yang tahu
akan hal itu
tentu saja
mewartakan
keberaniannya.
Dukungan pun
mengalir
dan mengangkatnya
menjadi
seorang pemberangus
Kata Itu.
Pada mulanya
tampik
dan tolak
meluncur
dari
dirinya.
Kata itu
adalah bagian
dari bangsa ini,
budaya kita,
mengapa harus memberangus
Kata itu kilahnya?
Tapi setelah tahu
bahwa Kata Itu
tidak saja
suka menyeret-nyeret
meja, kursi,
kertas, dan pena.
Juga hutan
yang ada
pohon,
hewan,
dan
mata air.
Kemarahannya
pun mengubun
seakan
mampu
membakar
langit biru.
Menghilangkan
sinisme
yang telah lama
mengeram
dalam
dadanya.
Dengan
berbekal
batu dan
telor busuk,
dia mencari
Kata Itu.
Di suatu
tempat
saat
di pinggir senja
dia bertemu
Kata Itu.
Kata Itu
berdiri
dengan pongah
dengan garang
menantangnya
melawannya.
Namun
hanya
sekedip
Kata Itu
terkulai kalah
sekarat.
Memang
batu dan
telor busuk,
yang dia bawa
ternyata lebih perkasa
daripada Kata Itu.
Di ujung kematian
Kata Itu berpesan :
”Tolong carikan aku nisan bertulis KORUPSI dengan huruf kapital yang indah, kalau tidak, aku akan menjadi hantu bagi kaummu”
setelah itu
Kata Itu pun
menghembuskan nafas terakhir.
Meski
dia telah melelah
menyusuri
tiap sudut negerinya
nisan itu
tak didapatnya.
Pada suatu malam
di tengah
kerentaannya
dia melihat
bayangan hitam
berkelebat.
Dia menggigil
ketakutan
dan dia bertanya
dalam hati :
”Apakah Kata Itu telah menjadi hantu?”
"Jika ya, maka aku tak sanggup lagi untuk menghadapinya!”
Celetukanyambung...
Senin, Februari 15, 2010 | 3 Comments
Bicara Korupsi Di Hari Valentine
Sumber :
id.wikipedia.org/wiki/Komisi_Pemberantasan_Korupsi
Celetukanyambung...
Minggu, Februari 14, 2010 | 12 Comments
Kisah 10 Hari Terpidana Korupsi Yang Idealis
1. Hari Pertama
Setelah mengisi urusan administrasi dan bla-bla-bla lainnya, akhirnya ia masuk ke dalam penjara yang tenar seantero negeri ini. Tak ada rasa bangga yang menyusup ke dalam dadanya. Tentu saja, mana mungkin ia berbesar hati masuk ke tempat itu, apalagi sebagai pesakitan.
Ia jadi pesakitan setelah mendapat keputusan tetap dari pengadilan. Namun ia tidak mengerti mengapa vonis hakim begitu berat padanya. Padahal banyak fakta janggal yang begitu saja ditelan oleh majelis itu. Mereka mengabaikan begitu saja fakta yang mengungkap ketidak-terlibatannya. Tapi apa daya sekarang, sudah terlambat. Pengajuan bandingya selalu dimentahkan. Bahkan vonisnya semakin diperberat.
Dan karena itu pula, rasanya tak salah jika ia ingin mengutuk hari ini, namun tak jadi ia lakukan. Ia berpikir Tuhan pasti punya rencana yang terbaik buatnya. Untuk itu, ia hanya menunggu dari pelaksanaan rencana itu.
2. Hari Kedua
Hari berikutnya pun tiba, ia mulai dilanda kebosanan. Bukannya bosan karena diperlakukan yang katanya “untuk pemanusiaan kembali”. Lebih karena ia jenuh, tak bisa melakukan kerjaan hariannya yang ditunggangi oleh berbagai kepentingan.
Kepentingan yang salah satunya katanya pesanan dari Sang Bapak. Padahal saat ketemu Sang Bapak, Sang Bapak tak pernah kelihatan memesan hal yang begituan. Sang Bapak begitu bijak dan layak dijadikan panutan. Ia berpikir jangan-jangan ini hanya akal-akalan orang-orang di sekitar Sang Bapak atau memang Sang Bapak punya kepribadian lain yang sungguh belum pernah ia jumpai. Jika memang benar begitu, ia tak ingin menyebut Sang Bapak orang yang munafik, ia menganggap Sang Bapak mungkin sedang khilaf belaka.
3. Hari Ketiga
Karena letih dengan kebosanan tersebut, mendadak kondisi dirinya menjadi drop. Terpaksalah ia dirawat klinik penjara itu. Jangan dikira fasilitasnya lengkap dan ada AC-nya. Ada obatnya saja itu sebuah syukur yang teramat hebat.
Tapi ia tak mempedulikan hal itu. Yang diinginkannya ialah ingin membunuh kebosanan itu. Ia berusaha berpikir keras, bagaimana cara melakukannya. Ia tak mengindahkan nasehat dokter agar tak perlu banyak pikiran. Karena dalam benaknya protes, mana mungkin orang dilarang berpikir. Bukankah manusia hidup itu harus berpikir, jika tak berpikir apakah ia layak dikatakan manusia? Pertanyaan itu berkecamuk terus di otaknya.
Tiba-tiba terbetik perasaan ingin mencaci dokter itu. Bisa-bisanya seorang dokter berani melarang orang berpikir, penguasa yang tiran saja tidak ada yang melakukannya. Paling banter yang dikerjakannya hanyalah menyumpal mulut para demonstran dengan semprotan dan sogokan.
Sogokan, ia jadi teringat kata itu. Bukankah ia dimasukkan ke penjara ini gara-gara itu? Sogokan atau bahasa akademik-legal formilnya adalah gratifikasi itulah yang didakwakan padanya. Ia tak mengerti para pendahulunya juga mendapatkannya secara terang-terangan tapi mengapa tidak ditangkap dan dipenjara seperti dirinya. Hukum yang aneh, kata itu, meluncur keluar begitu saja dari mulutnya yang sedikit terlihat pucat.
4. Hari Keempat
Tempat tidur di klinik itu memang lebih sedikit mendingan dibandingkan di dalam sel. Namun itu tetap tak menyenangkan hatinya. Ia ingin saja segera keluar dari tempat itu saja.
Ia pun meminta dokter untuk mengijinkannya kembali ke sel. Tapi apa kata dokter? Dokternya berkata ia harus tinggal minimal di klinik tiga hari, itu sudah prosedur.
Daripada berdebat dengan dokter itu, ia pun menganggukan kepalanya. Walaupun ia merasa sudah kembali seperti sediakala.
Makanya jadilah ia akan menempuh 1 hari selanjutnya di sini. Dan lagi-lagi ia berpikir, kapan saya tidak tinggal di tempat yang dipenuhi oleh kata prosedur?
5. Hari Kelima
Datanglah hari kelima, ia begitu suka cita sekali. Seperti anak umur 5 tahun yang sedang merayakan ulang tahunnya.
Sampai di selnya ia menari-nari, berjoget-joget menyanyikan lagu yang tak karuan liriknya. Tetangga sebelah selnya berteriak keras padanya, sambil bertanya mengapa ia berkelakuan seperti orang gila.
Ia menjawab sedang merayakan kebebasannya. ”Mana mungkin kau bebas?”, tanya tetangganya itu. ”Bukankah kau baru masuk 5 hari ini?”, imbuhnya. ”Kamu jangan salah paham, aku merayakan hari ini, karena aku sudah dinyatakan sembuh oleh dokter”, balasnya. ”Tapi bukankah itu hal yang biasa saja”, tanyanya lagi. ”Ini bukan hal yang biasa, ini hal yang luar biasa. Sepanjang hidupku baru kali ini saja aku sakit. Tentunya senang dong sudah sehat lagi”, ujarnya.
”Aneh”, gumam tetangganya itu. ”Mengapa kamu sebut aku aneh?”, tanyanya menyelidik. ”Kau tidak seperti lumrahnya koruptor lainnya. Mereka selalu punya dalih sakit, sehingga aparat hukum merasa kasihan dan ditempatkan di hunian yang layak.” ”Kamu benar, aku bukan seperti mereka. Aku tak pernah punya cadangan sakit, koleksi penyakit atau apalah namanya. Mungkin ini bisa saja terjadi, karena aku bukanlah koruptor. Kalau koruptor sejati pastilah punya itu”, jawabnya.
”O begitu. Tapi jika tak punya, mengapa kau harus masuk penjara ini?”, sahut tetangganya. ”Itu hanyalah karena kesalahan prosedur”, cetusnya. Dan pembicaraan itu pun terhenti, saat petugas datang dan mengajak tetangganya itu keluar.
6. Hari Keenam
Pagi ini ia teringat dengan pembicaraan dengan tetangga selnya. Ia teringat ketika ia berkata tentang prosedur. Prosedur yang telah menjejalkan dirinya masuk ke dalam penjara ini.
Saat ia asyik dengan pikiran itu, tetangganya menegur dari sebelah tembok selnya. ”Kau lagi ngapain?”, tanya tetangganya itu. ”Aku sedang berpikir”, jawabnya. ”Untuk apa kau berpikir, bukankah kita cuma menunggui nasib?”, ungkapnya. ”Kamu seperti dokter di klinik itu, suka melarang aku untuk berpikir”, kecamnya. ”Di sini yang diperlukan hanyalah kemampuan bersikap”, balasnya dengan ketus. Aku diam saja, tak mau membalasnya lagi.
Tiba-tiba tetangganya itu bertanya, ”Maukah kau mendengarkan sebuah cerita dariku?” ”Dengan perasaan malas ia menjawab, "Ya”. ”Dengarkan ya! Pada suatu hari, di sebuah negeri, ada seorang gubernur. Sebut saja namanya Pak Azis. Pak Azis ini berbeda dengan para gubernur di sana yang bergelimang kemewahan, ia malah berkarib dengan kemelaratan. Sehingga tak menunjukkan kepangkatannya yang tinggi itu. Dan suatu malam, ada seorang tamu yang datang ke rumahnya. Bertanyalah ia, urusan bertamu tersebut berhubungan dengan negara atau pribadi. Tamu itu menjawab, ia datang karena urusan pribadi. Kalau urusan pribadi, lampunya tidak saya nyalakan kata Pak Azis. Setelah itu disuruhlah itu masuk ke dalam ruangannya yang gelap, tamu itu bertanya mengapa. Pak Azis berkata ia tidak mau menggunakan lampu itu kepentingan pribadi, karena lampu itu berasal dari uang rakyat. Demikianlah ceritanya, apakah kau tahu maksudnya?”, tanya tetangganya itu. ”Ya”, jawabku dengan pelan.
7. Hari Ketujuh
Ia jadi kepikiran dengan cerita orang itu. Ia merasa cerita itu menyindir dirinya dengan telak.
Sindiran itu telah menyadarkannya, ternyata ia selama ini bukanlah pejabat yang baik. Kemana-mana istri dan anaknya membawa mobil dinasnya untuk belanja, kuliah, dan pelesir. Ini jelas tindakan korup pikirnya. Bukankah mobil dinas diperuntukkan untuk melayani kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi?
Karena kesadaran itu, ia mulailah merasa bahwa ia memang benar-benar seorang koruptor. Untuk itulah ia berjanji akan menikmati hidupnya di penjara dengan ikhlas.
8. Hari Kedelapan
Di hari ini ia tidak ketemu ataupun mendengarkan suara tetangga sebelahnya itu. Ia menjadi gelisah, ia ingin mendengar cerita lagi yang lain dari tetangganya itu. Ia menunggu-nunggu hingga malam merayapi harinya. Namun tetangganya itu tak terdengar suaranya atau sekedar batang hidungnya.
Terus terang tetangganya itu hanyalah satu-satunya teman di bloknya itu. Blok khusus untuk para koruptor. Tiap sel hanya untuk satu orang saja, berbeda dengan blok lain yang harus berbagi dengan yang lain. Menurut informasi yang ia dengar, ini peraturan baru. Tak ada fasilitas TV, spring bed, kulkas maupun taping.
9. Hari Kesembilan
Saat makan siang, mendadak tetangganya itu muncul dengan membawa sebuah cerita baru. Sepertinya tetangganya itu tahu, bahwa ia sedang menunggu cerita darinya. Dan mulailah tetangganya itu bercerita, ”Ada seorang raja yang sangat pemberani. Kemana-mana ia membawa pedangnya. Katanya pedangnya itu untuk digunakan menegakkan kebenaran. Karena keberaniannya itulah tak ada satu pun orang yang tak takut padanya. Pada suatu hari seorang anaknya akan dicalonkan menjadi seorang gubernur. Betapa marahnya dia, sambil mengacungkan pedangnya yang tajam. Dia berkata jangan pernah ada satu keluargaku yang menjadi pemimpin, kecuali aku. Aku tak mau dianggap KKN. Jika kepemimpinanku berhasil maka keberhasilan itu milik keluarga. Kalau gagal, biarlah itu kutanggung sendiri”. Mendengar cerita itu, ia pun menjadi tercekat.
10. Hari Kesepuluh
Di hari kesepuluh ini, ia bertekad bertanya pada tetangganya itu tentang masalah korupsi dan pemecahannya. Ia mengira tetangganya pasti tahu jawaban masalah itu.
Dengan mimik serius dihadapinya tetangganya itu. Melihat muka seriusnya, tetangganya itu tergelak hebat. Setelah tawanya berhenti, ia bertanya, ”Ada apa gerangan dengan dirimu?” ”Aku mau tahu pendapatmu tentang masalah korupsi dan pemecahannya”, ujarnya. Tetangganya itu terbahak lagi, dan berujar, “Apa kau gila? Aku dan kau ini sama-sama koruptor, untuk apa membahas hal itu?” Ia berkelit, “Hanya untuk mengisi hari ini yang kosong saja” “Baiklah. Korupsi itu mudah diberantas. Asalkan ada faktor kepemimpinan yang kuat. Kepemimpinan yang kuat di sini bukan diartikan kemimpinan lalim, tapi kepemimpinan yang meletakkan dasar hukum yang berkeadilan. Selain itu kepemimpinan yang bisa menyetir pemikiran bahwa korupsi itu mudah diberangus. Keseharian dari seorang pemimpin itu juga penting, bagaimana ia tidak hidup dalam kemewahan, selain daripada menggunakan tangan-tangan kekuasaannya untuk memenangkan tender proyek para pendukungnya, yang disertai juga bagi-bagi kue kekuasaan. Selain itu, harus jujur dan profesional”, jelasnya. “Itu bahasan terlalu melangit, tak segera dapat terwujudkan”, debatnya. “Jika kau ingin benar-benar memberangus korupsi, apakah kau pernah hidup jauh dari yang namanya suap dan pungli, pernah bersarasehan dengan orang-orang tentang korupsi, pernah menggalang massa berunjuk rasa menentang korupsi, pernah membuat LSM anti korupsi, pernah menyebar pamflet atau menyebarkan buku tentang anti korupsi, pernah menjadi duta anti korupsi, pernah membela orang-orang yang menjadi korban korupsi, atau paling tidak pernah berjanji dalam lisan, hati dan perbuatan untuk tidak berkorupsi? Jika belum, apakah kamu pernah berdo’a setiap hari dijauhkan dari perbuatan korupsi? Jika belum ada satu pun yang pernah kau lakukan, coba satu dululah!”, tandas tetangganya itu. “Ya ya aku belum pernah melakukan semua itu. Maksudku apakah kita perlu mencontoh dari negara lain, seperti hukuman potong tangan, hukuman tembak, hukuman pancung, menyediakan 1.000 peti mati tiap tahun, yang satu khusus untuk sang pemimpin, atau menyita semua kekayaannya lalu dibebaskan karena telah dianggap berjasa terhadap negara, atau disuruh kerja paksa/kerja sosial begitu?”, cerocosnya. Tetangganya itu terdiam lalu menuliskan sesuatu padanya. Ia menjadi terbelalak membaca tulisan itu. Tulisan itu berbunyi :
Celetukanyambung...
Sabtu, Februari 13, 2010 | 23 Comments
